Soal Pohon Disarungi di Purwakarta Viral di Medsos, Dedi Mulyadi Terjungkal


PurwakartaPos.Com | Perbincangan di media sosial terkait Debat Perdana Pemilihan Gubernur Jabar 2018, Senin, malam lalu masih menjadi buah bibir. Pasalnya, ada calon Gubernur yang lebih memuliakan pohon ketimbang manusia.

Bermula dari sesi 3 Debat Publik Pilgub Jabar 2018 tersebut, Ahmad Syaikhu mempertanyakan kepemimpinan Dedi Mulyadi saat menjadi Bupati Purwakarta yang senang menutup pohon dengan kain.

"Dalam kaitan dengan membangun perekonomian tidak semata-mata ekonomi, tapi juga kaitannya dengan lingkungan. Di Purwakarta banyak pohon ditutup dengan kain? Kenapa seperti itu?" ujarnya bertanya pada Dedi Mulyadi.

Menanggapi hal tersebut, Deddy Mulyadi menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk pelestarian lingkungan. Menurut Dedi, menutupi pohon dengan kain merupakan bentuk memuliakan lingkungan.

"Menutupi pohon dengan kain, maka tidak ada lagi yang memasang paku pada pohon. Pohon tidak digunakan untuk memasang iklan sedot tinja. Dalam ilmu lingkungan, pemuliaan adalah salah satu hal yang harus dilakukan. Menyarungi pohon dengan kain adalah bagian dari memuliakan, daripada digunakan untuk kepentingan yang merusak pohon," jawab Dedi.

Cawagub Ahmad Syaikhu sempat menyanggah uraian cawagub Dedi Mulyadi soal kenapa pohon-pohon di Purwakarta harus dibalut kain sarung ini.

Kata Syaikhu, sejatinya sebelum pohon yang disarungi, manusianya dulu yang harus pakai kain sarung. Ia beralasan manusia merupakan subjek utama yang lebih mulia ketimbang pohon.

“Sungguh ironi. Kalau memuliakan pohon, bagaimana manusia, tidak dimuliakan. Pandangan kami memuliakan manusia jauh lebih terhormat,” katanya.

Atas dasar itu, nalar publik kini makin cerdas. Netizen pun ramai-ramai menyebut kali ini Dedi Mulyadi "terjungkal" atas pertanyaan yang menohok dan sensitip ini.

Seorang netizen dengan akun‏ @BangPino_ misalnya, menulis:

"Sumpah Debat antara pak @syaikhu_ahmad dg pak DeMul Ini Lucu dan Unik. Versi Pak DeMul Pohon disarungin sbgain sarana memuliakan pohon. Pak Syaikhu bilang, ironis jika pohon diberikan sarung tapi anak anak kecil malah tidak diberikan KAIN yg pantas," kicaunya.

Dan masih banyak lagi komentar bernada miring soal patung dan pohon yang di sarungi di Purwakarta, terpaksa harus di edit untuk tidak ditayangkan.

Jurnalis : Niki Putune Sinten

Tidak ada komentar

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.